Pilihan antara lockdown dan tidak itu seperti pilihan pelik saat orang tua terkena kanker, untuk merawatnya kita harus berhenti bekerja sementara dan menjual mobil. Ada pertimbangan teknis, tapi pada dasarnya ini adalah pertimbangan moral yang tak bisa diselesaikan dengan teknokrasi.

Photo by: Unsplash
Masalah
Tentu saja masalahnya lebih kompleks. Karena tanpa kebijakan pengaman, maka ekonomi yang lesu terlalu lama juga bisa meningkatkan kriminalitas, depresi, bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, malnutrisi, dan seterusnya.
Problem nya adalah orang-orang cenderung melihat masalah kesehatan publik ini dengan kacamata ekonomi. Padahal sudah jelas ini soal kesehatan dan keselamatan warga Negara yang harus jadi prioritas berapa pun biayanya dan karena nyawa penduduk Indonesia tidak terbeli.
Ekonomi vs Kesehatan
Sebenarnya, mau social distancing atau lockdown, ekonomi itu sendiri sudah lesu. IHSG drop, sentimen negatif, investor resah, pengusaha stres karena kondisi serba tidak pasti. Coba bandingkan, jika lockdown tidak dilakukan meski hanya 14 hari tapi malah bikin status darurat 91 hari. Apa artinya? Hidup terkatung-katung selama 3 bulan?
Kasus pandemi memang membuat ekonomi Negara mana pun hancur. Tapi kalau problem ini cepat ditangani, maka masyarakat bisa pulih dan ada harapan ekonomi juga akan pulih. Tapi kalau masyarakat hancur, kepercayaan hancur, maka tidak akan ada ekonomi.
Pertanyaan Besar & Skala Prioritas
Pertanyaannya bukan pemerintah siap atau tidak? Atau punya uang apa tidak untuk urus pandemi ini, tapi pemerintah kita mau apa tidak uang nya dipakai atau neraca keuangan Negara defisit sementara untuk mem-proitaskan keselamatan rakyat selain urusan investasi. Skala prioritas pemerintah saat ini harus jelas. Ekonomi atau manusia? Kalau prioritas tertinggi adalah keselamatan manusia, maka lockdown saja.
Baca juga: Backlink Dan Fungsinya

Photo by: Unsplash
Lockdown Pilihan Terbaik
Yang di-lockdown adalah arus manusianya. Dan yang tidak terkena lockdown adalah tenaga medis & petugas-petugas lainnya, serta arus distribusi barang-barang pokok yang justru harus dijaga kelancarannya.
Dan jika terjadi lockdown maka permintaan untuk tetap tinggal di rumah harus disertai dengan bantuan tunai untuk warga Negara (bailout kebutuhan dasar). Ini yang dilakukan Australia pada pekerja harian, single parent, sektor informal, dan lain-lain.
Sekali lagi, nyawa, apalagi jika menyangkut ratusan, ribuan dan jutaan, tidak terbeli dan sebanding oleh ekonomi sebesar apapun.
Memang lockdown bukan pilihan yang mudah, tapi jika terpaksa bukan berarti tidak bisa. It is not too late to act, FAST and AGRESSIVELY. The clock is ticking.

1 comment
[…] Tentu saja untuk mencari informasi dan agar masalah mereka teratasi. Pertanyaannya adalah, apakah konten kita memang sedang menawarkan solusi yang mereka […]